Jumat, 05 Februari 2010

Tak Perlu Lagi ke Amsterdam Untuk Berselingkuh Karena Ada yang Lebih Murah di Indonesia




Saat membuka foto-foto liburan saya di facebook yang penuh skandal dan gosip panas, tiba-tiba hp saya berbunyi. Ada SMS masuk. Waktu itu pukul 11.30 malam.
"Ta makasi ya, Aku seneng hari ini. haha, tapi temen2ku heboh. Mereka shock ngeliat gang Dolli. Jd penasaran".

Aku cuma senyum melihat smsnya. Surabaya memang identik dengan Dolly dan siapapun yang per tamakali ke Surabaya, pasti ingin melihat Dolly. Sekedar info, si si pengirim adalah teman saya yang berdomisili di Bandung. Dia kelahiran Surabaya, tetapi sudah lama meninggalkan Surabaya sejak kecil. Saat sms itu dikirim, ia sedang berkunjung ke Surabaya. Dan sms itu dikir im hanya beberapa menit setelah aku mengantarkannya pulang ke penginapannya dari berkeliling Surabaya. Saat jalan-jalan itu dia menolak untuk kuajak melihat Dolly yang terkenal itu. Ternyata dilain pihak, temannya dari Bandung (temannya tak ikut kami jalan bersama, melainkan jalan-jalan sendiri) ternyata menyambangi Dolly.

Aku jadi teringat kembali liburanku di Semarang barusan. Aku buka lagi foto-foto Facebook tadi. Oh God, ada foto aku dan tempat penginapanku yang mesum yang di dindingnya ada poster anjuran memakai kondom. Ini hotel apa ya? Akhirnya teman wanita saya meminta untuk pindah penginapan karena takut menginap lebih lama di daerah prostitusi itu.

Ada sesuatu yang menggejala di negara ini di mana prostitusi atau terkadang aku mengistilahkannya dengan "perselingkuhan berbayar" menjadi objek wisata tersendiri. Moamar Emka adalah orang yang cukup gila karena menulis buku-buku prostitusi di Indonesia sampai berseri-seri. Saya cendurung mencurigai otaknya sudah dijual dipasaran sehingga dia aneh. Hahaha, salut Bro! Gejala ini bisa menjadi komoditas eksport Indonesia. Perselingkuhan berbayar!

Sehari sebelum ke Semarang, aku berkunjung kerumah temanku, Dita di Wonosobo.
"Gimana pacarmu?", tanyanya.
"Pacar dari Hongkong", jawabku.
"Dasar pria, selingkuh tiada tara." balasnya.
"Cangkemmu!"
Jelas sudah diotaknya sudah tak jernih lagi.

Semua kisah perjalanan di atas ternyata menginspirasikan aku untuk judul tugas akhirku di sekolah arsitekturku. Judul tugas akhir aku nantinya adalah "Dolly Centre, The Most Romantic Red Light Distric In Asia". Entah gimana desainnya aku tak tahu.

gambar diambil dari http://www.flickr.com/photos/merwing/2480142431/sizes/o/

2 komentar:

David A. Sagita mengatakan...

tata...sudah ada mahasiswa untag yang membuat tugas akhir dengan tema seperti yang kamu buat...tapi sekali lagi dolly hadir sebagai sebuah 'kampung organik' dengan harga yang bisa dinego...mari kita bayangkan jika dolly adalah well planed kampung dimana semuanya termutahirkan...

tata perdana mengatakan...

Haha..saya tidak tahu. Ide saya cukup bagus. Membuat desain yang bertema simbiosis dengan Islamic centre. Lalu antara dua gedung tersebut di hubungkan jembatan. Semoga penguji TAnya kuat iman. Haha..saya idiot.