Senin, 22 Oktober 2012
Sabtu, 20 Oktober 2012
Generative Façade
Generative façade adalah instalasi yang terinspirasi dari
proyek Arcadia yaitu Menara Pertiwi di Jakarta yang beradaptasi dengan cahaya
matahari. Permainan bidang masif dan void adalah cara klasik untuk
mengendalikan cahaya diaplikasikan kembali dengan memanfaatkan teknologi
komputasi parametric dan perhitungan
sinar matahari dalam proses desain. Menghadirkan kembali keindahan fenomena
alam ke sebuah desain yang dinamis hasil transformasi alam, sains, seni dan
teknologi.
Instalasi oleh
Arcadia.
Form generation oleh Formogix Laboratory (Computated design and Fabrication Consultant).
foto oleh kudus dan formologix
Kamis, 02 Agustus 2012
Arsitek
ARSITEK
* Oleh Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun), Kamis 16 Sep 1993 KOMPAS Halaman 4
* Oleh Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun), Kamis 16 Sep 1993 KOMPAS Halaman 4
PROFESI arsitek di Indonesia masih baru. Di zaman Perang Dunia II di Technische Hoge School (THS) yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) hanya ada yang disebut Jurusan Sipil, di mana Bung Karno dulu pernah menjadi mahasiswa. Di THS Negeri Belanda di Delft hanya ada jurusan yang disebut Bouwkunde (Ilmu Bangunan) yang menghasilkan arsitek-arsitek juga, tetapi lebih condong ke ilmu bangunan sipil. Kata sipil diambil dari kata sebutan civiel atau diterjemahkan sekarang: bangunan kepentingan masyarakat alias bangunan umum. Profesi arsitek pada dasarnya tidak lahir dari kalangan universitas atau perguruan tinggi, tetapi dari iklim magang para arsitek profesional di sanggar-sanggar, karena lebih digolongkan dalam profesi senirupa. Arsitek-arsitek agung sebelum Perang Dunia II dan yang memberi wajah serba baru kepada dunia bangunan sesudah kehancuran umum dunia maju 1945 seperti Mies van der Rohe, Gropius, Corbusier, kalau tidak salah Kenzo
Tange juga, bukanlah sarjana-sarjana lulusan universitas, tetapi orang-orang genius buah sanggar-sanggar "swasta" yang dididik langsung oleh masyarakat arsitek dan kreativitas pribadi. Seperti pelukis dan pematung, seniman tekstil dsb. Di Jerman memang ada lembaga pendidikan desainer termashur yang bernama Bauhaus (Rumah Bangunan) yang secara integral dan total mencakup pendidikan segala cabang seni. Tetapi Bauhaus justru tidak ingin akademik. Inspirasi dasar Bauhaus adalah kehidupan real masyarakat, khususnya perpaduan antara keperluan sehari-hari dan dunia serba baru yang sedang dicangkokkan ke dalam masyarakat, yakni dunia khas industrial. Yang punya filsafat hidup, budaya dan selera yang sangat khas, sangat berlainan dari dunia budaya agraris.
Dari sejarah kebudayaan di mana pun memang kita melihat, bahwa arsitek, pelukis, pematung, para seniman dalam seni-bentuk memang adalah "putera-puteri masyarakat", bukan alumni perguruan tinggi formal. Bahkan di Barat, hasil seni dari dunia akademi justru dilecehkan sebagai seni yang tidak otentik. Akademis artinya: buruk, klise, tidak inspiratif, tiruan, dan sebagainya yang negatif.
Pertanyaan akademis juga bernada negatip: mengada-ada, tidak praktis, tidak hidup, tidak relevan. Walaupun di zaman antik, pertanyaan akademis justru bernilai metafisik yang tinggi. Tetapi, zaman industri yang dinafasi iptek memang lain problematika hidupnya.
Belum diakui penuh
Sebetulnya tidak sangat berbeda dari profesi-profesi lain yang semula belajar dari praksis kehidupan masyarakat, seperti ilmu ketabihan. Para sinsei di Timur, Timur-Tengah dan Barat belajar lewat proses magang dari para guru dan suhu di tengah masyarakat. Baru kemudian datanglah fakultas-fakultas kedokteran pada perguruan-perguruan tinggi formal. Ini sangat berhubungan dengan sifat dan proses birokratisasi juga yang tak terelakkan dalam masyarakat yang semakin canggih pengorganisasiannya.
Tetapi, dokter sudah (terpaksa) dihargai masyarakat. Arsitek belum. Orang sakit yang berakal sehat atau terpelajar datang ke dokter tidak dengan tuntutan minta pil-kapsul ini suntikan itu, mendikte si dokter obat apa yang harus diberikan agar ia sembuh. Tetapi kepada arsitek orang datang dengan seperangkat permintaan dan pendiktean sesuka selera. Harus seperti gedung ini dari Amsterdam, minta jendela seperti di Hongkong, harus pakai tiang ini dari Yunani dan harus meniru bentuk-bentuk yang "tidak kalah dengan" Singapore dan seterusnya. Arsitek bahkan dianggap lebih rendah daripada dukun, karena kepada dukun sekalipun orang tidak mendiktekan resep.
Mungkin karena pada pemberi order itu kebudayaannya masih belum beranjak dari demang despotik di zaman kolonial yang masih kelewat agraris, sehingga mereka bergaya seperti petani dungu yang sukanya mendikte dokter agar jangan diberi pil, tetapi disuntik saja supaya lekas sembuh. Tetapi mungkin juga di arsitek belum dipercaya kemampuannya, dan membuktikan diri memang belum punya pendirian dan filsafat disain yang kuat sehingga tidak meyakinkan. Namun, boleh jadi orang punya suatu pemahaman tentang arsitektur yang keliru. Sehingga hasilnya adalah arsitektur murahan bahkan "kampungan" yang biasanya gado-gado asal comot sini comot sana karena memang itu yang diminta pemberi order. Kalau tidak memuaskan beliau-beliau, ditakuti nanti tidak mendapat order basah dari klien yang kuasa, kaya baru tidak intelek dan budayanya masih kampungan. Jadi praktis kriterianya: uang dan kemumpungan. Sampai terjadi, arsitektur Gedung Dewan Pertimbangan Agung di Jakarta
BlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Labels:
architecture
Jumat, 06 Juli 2012
Rem Koolhaas dan Dunia Akademis Arsitektur Indonesia
Sekitar tiga setengah tahun lalu, ketika saya duduk ditahun pertama di sekolah arsitektur di Surabaya prinsip-prinsip order dari arsitektur klasik yang digunakan seperti unity, harmony, dan balance untuk menghasilkan produk yang estetis. Hal ini seolah menjadi pegangan utama dalam studio perancangan arsitektur.
Masalah mulai timbul ketika mahasiswa mulai terjebak dengan pemahaman yang setengah-tengah. Keterbukaan arus informasi tak begitu dimanfaatkan untuk memperdalam prinsip-prinsip desain yang diajarkan. Keterbatasan kosa kata desain dan pemahaman makna estetika membuat kebanyakan mahasiswa hanya berkutat pada konsep desain yang terkesan dipaksakan, tanpa ada argumen yang kuat akan desainnya.
Tidak jelas apakah saat ini terjadi ketidakserasian antara kuliah asas dan metodelogi perancangan yang diberikan di sekolah arsitektur saya dengan preseden yang diangkat mahasiswa di studio perancangan yang menghasilkan pemikiran-pemikiran mahasiswa yang tanggung. Kebanyakan mahasiswa, termasuk saya, pada akhirnya terjebak dalam mata rantai kebingungan. Asas dan metodelogi perancangan yang berjalan lambat dan tertinggal jaman disandingkan dengan preseden arsitektur-arsitektur top dunia yang selalu berkembang pesat. Mahasiswa berada pada perangkap keseragaman konsep yang terorganisir dengan aturan-aturan bakunya, berorientasi pasar, pengikut tren belaka dan pemaknaan-pemaknaan yang dipaksakan.
Rem Koolhaas dan OMA-nya, beserta beberapa jebolan OMA seperti Gigon Guyer, Bjarke Ingels, Sauerbruch & Huton, Winy Maas dan Jacob van Rijs menjadi favorit di sekolah saya. Berawal dari kepopuleran nama OMA dan keterputusasaan saya di studio perancangan, saya mulai berkenalan lebih jauh dengan Rem Koolhaas melalui buku-buku perpustakaan dan internet.
Saya bukan mahasiswa cerdas yang mampu mencerna tulisan-tulisan Rem Koolhaas atau menghayati video-video ceramahnya diinternet dalam sekejap. Butuh proses yang sampai saat ini pun belum selesai untuk menghayatinya. Koolhas tak menempatkan estetika dalam prioritas utama ketika ia berasritektur. Tentu hal ini amat membingungkan saya. Ia seolah mencari kebenaran yang diolah melalui program dan konsep. Estetika diatasi melalui program dan konsep.
Saya kembali kepada tugas studio saya di sekolah arsitektur, menguraikan kembali kerangka-kerangka estetetika. Seakan merasa dunia tak adil bahwa karya arsitektur Rem Koolhaas yang jika ditilik dalam kerangka-kerangka arsitektur, tak bisa diterima oleh hukum estetika itu tadi. Tak adilnya Rem Koolhaas justru dikenal dan diakui dunia sebagai arsitektur top.
Untuk menikmati arsitektur Rem koolhaas sepertinya saya harus mengeluarkan seluruh isi otak saya ke atas meja, memilahnya dan membuang jauh-jauh konsep estetika lama yang diajarkan di sekolah saya dan mendekam terlalu lama diotak. Setelah otak saya kosong dari teori estetika itu, barulah indra saya boleh merasakan arsitektur Rem Koolhaas yang ternyata menakjubkan, entah itu karena proporsinya, materialnya atau bentuknya yang tak logis.
Sampai sejauh ini mahasiswa terkesan menjauhi data-data, entah itu berupa diagram, grafik atau hal lainnya. Seharusnya dengan mengambil preseden karya-karya Rem Koolhaas, data dan diagram menjadi hal yang penting. Data dan diagram memberikan kesempatan kepada mahasiswa menjadikan arsitekturnya unik, karena memang sesungguhnya tak pernah ada arsitektur yanng identik sama. Teknik ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengeksplorasikan konsepnya dan kegiatan studio menjadi lebih menarik (process-oriented). Hal ini seperti yang diyakini oleh Rem Koolhaas bahwa proses itu di atas segalanya bagi arsitek.
Diagram harusnya mampu membangkitakan ide dan menghasilkan inspirasi yang baik. Pendekatan seperti ini mungkin terdengar terlalu mekanik, tetapi mungkin mampu menghasilkan konsep yang lebih rasional dibandingkan metode metafora yang banyak dipakai mahasiswa.
Arsitektur Koolhaas dikatakan berhasil dengan menggunakan teropong konsep dan program, tentu tak lepas dari diagram-diagram. Aktivitas seharusnya diatur dan itu terjadi.
Kunsthal adalah karya Rem Koolhaas yang sederhana dan kurang populer di kalangan mahasiswa jika dibandingkan CCTV. Dibalik kesederhanaannya sarat akan program. Sebagai bangunan tempat pameran seni tak menjadikan Koolhaas membuatnya menjadi heboh seperti yang dilakukan Frank Gehry, Frank Lloyd dan arsitek-arsitek lainnya pada proyek bangunan seni. Ruang dan aktivitas terlihat tepat dengan pola pergerakan dari taman membelah bangunan melalui ramp dan menciptakan kantong-kantong aktivitas yang aktif pada bangunan itu sendiri. Selain konsep continous circuit, tentu signange-nya yang menarik perhatianlah yang menarik dari bangunan ini. Itu luar biasanya Koolhaas, detail yang sering terlupakan mahasiswa seperti signage pun diperhatikan. Dengan melihat apa yang Koolhaas lakukan pada Kunsthal seharusnya mampu memperkaya mahasiswa dalam proses desain.
Saya tak yakin dengan pernah tinggalnya Rem Koolhaas di Indonesia membawa pengaruh yang besar bagi pemikiran arsitekturnya. Rem Koolhaas jelas merupakan produk arsitektur barat dengan pola pikir baratnya, walaupun beberapa proyeknya dilakukan di Asia. Menjadi pertanyaan besar adalah pantaskah pemikiran Rem Koolhaas disebarkan begitu saja kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia.
Kita memiliki kekayaan arsitektur dari nenek moyang. Arsitektur nusantara namanya. Produk kita adalah arsitektur kayu, jauh berbeda dengan nenek moyang Rem Koolhaas yang memiliki produk arsitektur batu.
Di salah satu kuliah umumnya, Profesor Josef Prijotomo mengatakan bahwa arsitektur tradisional telah mati dan tak perlu dibangkitkan kembali. Kita hidup di jaman baru yang seharusnya tak mengkotak-kotakkan sesuatu menurut teritori polistis dan penamaan belaka. Tak ada yang melarang rumah Gadang di bangun di Papua dan rumah Bali di bangun di Madura. Tak ada yang melarang bahwa rumah Joglo diberi ukiran batik khas Dayak. Lalu kenapa kita harus takut jika pemikiran Rem Koolhaas masuk dan meracuni para mahasiswa arsitektur Indonesia. Ini sama seperti kenapa para mahasiswa arsitektur terlena dengan pemikiran Vitruvius padahal kalau mau kita memiliki Wastu Citra.
Pada akhirnya kehadiran Rem Koolhaas patut disikapi serius di dunia akademis. Terlepas dari apakah yang dilakukan oleh Rem Koolhaas adalah yang terbaik bagi dunia arsitektur tak terlalu menjadi soal. Bukankah arsitektur itu sendiri sangat dinamis, dimana pembaruan akan selalu hadir.
Pada akhirnya kehadiran Rem Koolhaas patut disikapi serius di dunia akademis. Terlepas dari apakah yang dilakukan oleh Rem Koolhaas adalah yang terbaik bagi dunia arsitektur tak terlalu menjadi soal. Bukankah arsitektur itu sendiri sangat dinamis, dimana pembaruan akan selalu hadir.
*) Diambil dari majalah jongArsitek! edisi 4.11
Jumat, 22 Juni 2012
Pameran Lukis Raden Saleh
Apa yang terjadi di galerinasional Jakarta pada bulanJuni 2012 adalah hal yang tidak biasa. Indonesia, Negara berpenduduk 238 juta jiwa menurut perkiraan di tahun 2011 yang memiliki 300 etnis dengan berbagai budayanya yang tersebar di 17.508 pulau yang memiliki sekian galeri berkualitas baik. Sekian bukan berarti banyak, sekian dapat berarti jumlah yang sedikit, amat sedikit untuk suatu negara yang memiliki 238 juta penduduk.
Sesuatu yang terjadi di galeri nasional Jakarta pada bulanJuni
2012 adalah digelarnya pameran lukis Raden Saleh. Pameran yang
mengundang euforia. Antrian sudahterasa di
pintu masuk galeri. Mungkin ini satu-satunya pameran lukis yang
menghasilkan antrian terpanjang di Indonesia. Antrian yang unik yang pernah terjadi
di Indonesia karena semua golongan bercampur baur pada antrian tersebut. Jika kita biasa melihat kaum miskin kota antri sumbangan sembako
di masjid atau gereja, atau antrian kaum kaya untuk masuk kebutik LV, maka di
galeri nasional semua berbaur kaya, miskin, harum, busuk, pejabat,
karyawan bawahan, mahasiswa seni, mahasiswa teknik, guru, seniman, gay, pria normal,bule,
india, inlander, semua harus antri (kecuali tamu khusus).
Tingginya antusias masyarakat Jakarta
dan sekitarnya untuk menghadiri pameran lukisan Raden Saleh memang patut diapresiasikan dengan meningkatkan intensitas kegiatan-kegiatan seni dan budaya serupa. Memang tak ada
data valid yang menyatakan berapa persen pengunjung yang
benar-benar menikmati acara seni seperti ini dan berapa persen yang
menghadirihanya atas dasar eksistensi sebagai bagian dari kaum
urban.Teknologi membuat semua informasi beredar cepat, event berkelas dapat diketahui jauh-jauh hari dan
sosial media membuatsemua orang merasa harus aktif dengan kegiatan yang sedang in
sehingga dapat menulis status “saya sedang melihat pameran lukis Raden Saleh”.
Apa pun alasan pengunjung, mengunjungi galeri sepulang kantor, atau menonton teater di akhir pekan seharusnya menjadi suatu alternatif yang bisa ditawarkan oleh negara sekelas Indonesia, alih-alih menghabiskan jam pulang kantor dan akhir pekan dari mall ini ke mall yang lain. Bukankah semakin banyak alternative, hidup akan semakin menarik?
Minggu, 29 Januari 2012
Ilusi Kampanye Hijau Industri Otomotif


Isu pemanasan global yang menggejala belakangan ini membuat semua sektor menjadi latah untuk melakukan inovasi yang menunjukkan kepedulian akan alam. Jika anda tidak percaya, coba baca koran, berapa banyak iklan yang memuat kata green, sustainable dan turunan kata yang bermakna peduli lingkungan.
Sunggguh menggelitik ketika industri otomotif mulai memasarkan produknya dengan embel-embel green/sustainable. Inikah yang disebut sebagai penebusan dosa ketika iklan mobil dan motor ramai-ramai memasang gambar pohon atau orang yang sedang menanam pohon dan mereka mengkampanyekan program pelestarian alam dan efisiensi energi dan bahan bakar.
Asap kendaraan adalah salah satu penyumbang kerusakan alam dan itu benar adanya. Tetapi hal itu bukanlah permasalahan utama dari permasalahan transportasi perkotaan. Kepadatan lalu lintas menghasilkan angka perbandingan yang tak proporsional antara jumlah kendaraan, jumlah pengguna kendaraan dan jumlah luasan jalan.
Lalu apakah jika dimasa datang ketika semua kendaraan menjadi ramah lingkungan, menggunakan bahan bakar baterai alih-alih bahan bakar fosil sehingga eksplotasi minyak berkurang dan mobil tak lagi mengeluarkan gas racun, menjadikan semua permasalahan transportasi terselesaikan? Jawabannya tidak, karena permasalahan utamanya adalah kepadatan jumlah kendaraan. Masalah polusi lingkungan yang diakibatkan dari kendaraan adalah akibat dari kemacetan yang parah itu sendiri akibat kepadatan jumlah kendaraan yang berlebihan.
Mari kita lakukan hitung-hitungan. Jakarta, salah satu kota terpadat di dunia, memiliki luas jalan 40,1km persegi atau 0,26% dari luas wilayah. Panjang jalan sekitar 7650km dengan pertumbuhan panjang jalan 0,01%pertahun. Hal ini tidak sebanding dengan tingginya angka perjalanan yang mencapai 20juta perhari. Mobil pribadi diperkirakan sebanyak 2.115.786 unit dan motor sebanyak 7.516.556 unit. Itu artinya jika kita menghitung luas rata-rata mobil adalah 7,56m persegi (4,2m x 1,8m) dikalikan dengan jumlah mobil yang ada, maka didapat luasan 15.995.342m persegi. Atau 40% dari luas jalan. Perhitungan ini dengan kondisi kasar tanpa memperhitungkan jarak jeda antar mobil (mobil dalam keadaan saling berdempetan) dan menganggap semua mobil adalah SUV ukuran menengah. Tambahkan jumlah motor, kendaraan umum seperti taksi, bus dan angkot, kendaraan dari luar kota yang. Melintasi Jakarta dan jarak jeda antar mobil, maka akan didapat angka yang fantastis.
Sekarang kita lakukan perhitungan skala kecil saja jika hitungan skala besar tadi dirasa memusingkan. Pertama-tama kita harus menyepakati bahwa transportasi umum adalah solusi terbaik permasalahan transportasi perkotaan, alih-alih pembuatan jalan layang sepuluh tingkat.
Kita ambil contoh suatu jalan yang macet di jam padat seluas 1500 meter persegi saja. Kita potong rata bahwa di jam macet, semua orang menggunakan SUV pribadi dengan luas rata-rata 7,56 meter persegi (4,2m x 1,8m). Dalam kenyataan, tak mungkin ada mobil jalan berdempetan. Jadi kita asumsikan jarak terpendek antar mobil sebesar 0,3m. Didapat luasan yang dibuthukan satu mobil adalah 9,45 meter persegi (4,5m x 2,1m). Rata-rata satu mobil diisi oleh 1,5 orang. Hal ini karena kebanyakan masyarakat menggunakan mobil benar-benar secara pribadi. Satu orang satu mobil atau satu orang+ supir satu mobil. Luasan yang dibutuhkan orang duduk adalah 1,05 meter persegi (0,7m x 1,5m). Artinya 1,5 orang membutuhkan ruang sebesar 1,575 meter persegi atau 16,7% luasan mobil. Jadi di jalan seluan 1500 meter persegi tadi mampu menampung 158 buah mobil (hitungan ini tidak mempertimbangkan konfigurasi geometris mobil) dan 237 manusia atau 99,5% mobil dan 16,59% manusia. Bayangkan lahan seluas 1500 meter persegi hanya berisikan 16,59% manusia, suatu pemborosan ruang yang sangat besar.
Bayangkan jika industri mobil lokal kita berkembang pesat hingga nanti akan lahir jutaan mobil ala EsEmKa. Perekonomian meningkat dan menimbulkan komposisi satu orang satu mobil. Orang akan terlena dengan iklan industri otomotif yang berani menjual mobil ramah lingkungan dengan harga murah. Orang tak perlu takut lagi menggunakan mobilnya bahkan cuma untuk membeli roti di toko depan perumahan hanya karena teknologi otomotif yang sedemikian maju.
Maka 9.588.198 jiwa penduduk Jakarta (data 2010). Akan membutuhkan 90.608.471 meter persegi ruang untuk mobil dengan catatan semua menggunakan SUV ukuran menengah. 12,16% luas Jakarta akan diisi mobil, padahal luas jalannya hanyalah 0,26% saja. Perhitungan tersebut belum termasuk penduduk pendatang yang tidak terdata dan penduduk luar kota yang melintasi Jakarta.
Transportasi umum massal yang nyaman adalah hal mutlak yang mesti ada di kota sepadat Jakarta. 1500 meter persegi jalan tadi yang diisi 237 orang dan 158 mobil seharusnya bisa dikonversikan ke dalam 3 buah bus trans Jakarta (1 bus menampung 85 penumpang, 31 tempat duduk). Jika satu bus trans Jakarta luas kasarnya adalah 36m (12m x 3m), maka hanya dibutuhkan 7,2% luas jalan untuk mobil. Penghematan ruang bukan?
Hitung-hitungan kasar ini membuktikan bahwa kita jangan sampai tertipu oleh kampanye pelestarian lingkungan oleh industri otomotif sehingga kita merasa tidak berdosa menggunakan mobil pribadi tanpa bijak. Pelestarian lingkungan memang penting, tetapi bukan berarti permasalahan transportasi perkotaan akan berakhir. Semua masalah harus dicabut hingga akarnya, bukan hanya daunnya saja.
Published with Blogger-droid v2.0.2
Sabtu, 28 Januari 2012
Mempertanyakan Usia Desain

Tiap awal tahun, kita selalu disuguhi tulisan yang bertemakan tren fashion tahun ini. Sesuatu yg membuat saya bertanya, sesingkat itukah tren fashion dunia?
Fashion adalah salah satu cabang dunia desain, seperti halnya desain produk, grafis, interior dan arsitektur. Boleh dikatakan fashion adalah anak emas yang dikutuk. Para penggiatnya terkenal bak aktor film, tetapi fashion selalu dikejar tren singkat dan segmented.
Di Kemang, Jakarta, ada sebuah studio furnitur yang berkembang. TrystLiving namanya. Digawangi desainer muda, Zacky Badarudin. Impian TrystLiving adalah furnitur produksinya dapat bertahan 100 tahun. Standar memang, tetapi itu impian semua desainer.
Jika kita beralih ke dunia arsitektur, banyak desain yang bertahan lama, banyak pula yang berumur singkat. Di Selatan Jakarta ada kantor yang pemiliknya akan merenovasi facadenya yg dulu dikerjakan AT6. Facade itu rencananya akan dibikan yang baru yang lebih atraktif, menutup facade lama rancangan AT6 pada tahun 90-an. Entah apa dosa biro ini, rancangan museum Nasional di Jakarta pun akan diperbarui. Masterplannya dan konon facadenya akan diperbarui oleh Aboday melalui sayembara Nasional. Sependek itukah usia desain?
Desainer sejati selalu memperlakukan desain seperti anaknya sendiri. Bayangkan seorang ibu yang merawat anaknya dengan perhatian besar dan hati-hati, melihatnya tumbuh dan berguna bagi lingkungannya. Mendesain bukanlah hal hitung-hitungan matematis. Hasil desain harus mampu bertahan lama, jika fisiknya tak mampu bertahan lama, tetapi ruhnya yg bisa bertahan lama menginspirasi setiap yang bersinggungan dengannya, menginspirasi generasi berikutnya. Kita harus banyak belajar dari Frank Lloyd Wright dan Apple Computer.
Published with Blogger-droid v2.0.2
Langganan:
Postingan (Atom)







