Sudah saatnya kita meninggalkan gambar padi, kapas, gandum, perisai, salib, mahkota, dan hewan-hewan buas pada logo kota. 2013, saatnya maju dengan tampilan yang lebih mengkini.
Sabtu, 13 Juli 2013
City Branding
Sudah saatnya kita meninggalkan gambar padi, kapas, gandum, perisai, salib, mahkota, dan hewan-hewan buas pada logo kota. 2013, saatnya maju dengan tampilan yang lebih mengkini.
Jumat, 12 Juli 2013
Merah Putih Jepang
Kalau disebutkan kata Jepang, yang pertama kali keluar dalam bayangan saya adalah zen. Zen konon katanya banyak mengilhami semangat minimalisme dalam berbagai aspek. Entah benar atau salah, saya belum mempelajarinya lebih lanjut.
Kembali ke persoalan bendera. Bagi saya bendera jepang itu dibuat dengan sangat cerdas. Sederhana, bisa dan mudah diaplikasikan dalam berbagai hal, indah sepanjang masa, bahkan bisa difotocopy dengan baik. Dan yang membuat saya kagum adalah bendera Jepang menginspirasi banyak aspek. Bendera Jepang adalah brand identity negara Jepang.
Apa yang saya rumuskan bebas untuk dipatahkan, karena lama-lama bosan juga melihat yang itu-itu saja.
Peace!
Uniqlo - fashion
Uniqlo - fashionMinggu, 02 Juni 2013
Selasa, 21 Mei 2013
Bolu Kukus dan Kenangan dalam Arsitektur
Suatu ketika saya dibelikan kue bolu kukus oleh seseorang dari salah satu toko kue di Grand Indonesia Mall. Saya memakan bolu tersebut sambil ingatan saya meloncat ke beberapa tahun lalu, ketika saya kecil. Ibu saya suka memberi saya kue bolu kukus. Entah itu kue bolu kukus yang ibu saya bikin sendiri atau ia beli dari warung.
Soal rasa, kue bolu yang saya dapat dari ibu kalah dibandingkan dengan kue bolu yang biasa saya makan sekarang. Tetapi makanan bukan sekedar soal rasa saja. Kue bolu kukus dari ibu saya boleh lah dibuat dari tangan seseorang yang bukan ahli memasak. Atau karena alasan keuangan, ibu hanya mampu membelikan saya kue bolu dari warung yang murah. Beda dengan apa yang saya makan sekarang, dibeli dengan mahal dari toko kue yang bagus. Rasanya pasti enak sekali.
Hebatnya, jika sekarang saya makan kue bolu kukus, ingatan saya adalah kue bolu kukus dari ibu, bukan kue bolu kukus dari toko mahal. Ini yang saya sebut sebagai "pengaruh kenangan".
Sama seperti arsitektur. Kenangan itu punya egek yang luar biasa dan itu diluar kuasa arsitek sebagai perancang.
Saat ini saya menyewa kamar kos yang jauh lebih baik dari kamar kos saya ketika masih kuliah dulu. Fasilitas lebih lengkap, lebih tenang untuk sebuah tempat tinggal, bebas panas karena memilik AC dan bebas nyamuk. Tetapi saya tak merasa mendapatkan feel yang sama ketika saya menyewa kontrakan ketika kuliah dulu. Saya merasa kos saya yang sekarang sepi dari aktivitas manusia. Terlalu dingin seperti gedung museumnya Frank Gehry di Bilbao.
Sebagai arsitek, saya belum berhasil menguak misteri "kenangan". Saya selalu berpegangan bahwa hirarki ruang tertinggi adalah ruang yang menciptakan kenangan. Saya selalu berusaha mendesain sesuatu yang nantinya dapat menciptakan kenangan bagi penggunanya. Semakin berusaha, semakin gagal.
Adakah yang mau membagi rumus untuk membuat kenangan bersama saya.
Senin, 08 April 2013
Kenangan Ada Apa Dengan Cinta dan Museum Wayang
Ada Apa Dengan Cinta berkisah tentang percintaan remaja SMA bernama Cinta dan Rangga. Film berakhir dengan perpisahan mereka di Bandara karena Rangga harus pindah ke luar negeri. Bukan akhir yang bahagia.
Indonesia adalah negeri yang latah. Melihat kesuksesan yang luar biasa, Ada Apa Dengan Cinta dibuat kelanjutannya dalam format serial televisi (sinetron). Berkisah tentang sekembalinya Rangga ke Indonesia dan hubungan percintaannya dengan Cinta. Serial TV Ada Apa Dengan Cinta berkesan memaksa dan berorientasi meraup untung dengan memanfaatkan euforia film bioskopnya. Terbukti dengan semua aktor dan aktrisnya adalah pemain baru. Kualitas yang buruk ini cukup mengecewakan penggemar. Bahkan yang lebih parah adalah serial TV merusak kenangan orang akan kisah di filmnya.
Saya pribadi, dan banyak penikmat film sependapat bahwa salah satu kenangan dari film Ada Apa Dengan Cinta adalah saat adegan perpisahan di bandara. Setelah itu film berakhir. Apa yang terjadi selanjutnya, biarlah menjadi misteri yang dibawa mati penonton. Misteri yang tak terpecahkan adalah salah satu kenikmatan menonton film.
...
Suatu malam saat saya membuka facebook, tak sengaja melihat foto yang diunggah teman facebook saya, seorang arsitek senior Indonesia. Foto yang membuat miris. Foto itu adalah foto taman yang baru dibuat di museum wayang Jakarta.
Museum wayang Jakarta adalah sebuah museum wayang yang menempati bangunan tua bekas gereja yang didirikan sejak tahun 1640 dan beberapa kali mengalami renovasi. Oleh pemerintah bangunan ini dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya. Karena itulah penanganan bangunan ini tak bisa sembarangan. Perlu ilmu dan keahlian khusus tentang arsitektur cagar budaya. Untungnya bangunan ini pernah dipugar oleh arsitek senior yang berkompeten dibidangnya.
Ketika saya mengunjungi museum wayang tahun 2012, saya sangat menyukai area courtyardnya. Cahaya masuk dengan bebas menyapu dinding bata merah. Halaman courtyard berupa rumput membuat saya merasa nyaman duduk disitu melihat komposisi yang cantik. Ditambah lagi ada satu bagian penting dari bangunan ini yaitu prasasti makam Jan Piterszoon Coen, mantan gubernur jendral Hindia Belanda masih dipertahankan dan berdiri dengan kokoh di courtyard.
Seperti film Ada Apa Dengan Cinta, museum wayang bukanlah bangunan dengan desain yang terbaik dimasanya. Renovasi desainnya pun bukanlah renovasi desain terbaik dimasa kini. Tetapi saya selalu percaya, yang tak akan pernah bisa dikendalikan oleh arsitek adalah menciptakan kenangan akan ruang.
Courtyard museum wayang memberikan kenangan kuat bagi saya dan banyak orang lain tentang bangunan itu. Favorit saya adalah duduk menghadap prasasti makan Jan Pieterzoon Coen, dengan latar depan rumput hijau dan latar belakang dinding bata. Semuanya selaras. Lingkungan didesain tak harus berteriak, biarkan jiwa kita duduk dengan tenang di courtyard menikmati cahaya matahari menyapu material yang ada.
Saya tidak tahu apakah ratusan tahun yang laku warga Hindia Belanda juga merasakan apa yang saya rasakan di tahun 2012 ketik mengunjungi bangunan itu.
Tetapi satu yang saya tahu bahwa kenangna saya dirusak oleh renovasi berlebihan pada courtyard museum wayang. Courdyard rumput yang tadinga tenang diganti menjadi kolam buatan dengan disain kualitas rendah. Tak ketinggalan pohon bekas ditebang palsu dari beton dicat menyerupai warna pohon. Ah, sedih melihat bangunan cantik dirusak oleh renovasi desain kelas bawah. Itu juga yang saya rasakan ketika dulu menonton serial TV Ada Apa Dengan Cinta.
...
Kadang kala saya berpikir bahwa biarlah kenangan itu tercipta setelah apa yang kita alami atau rasakan hilang atau tergantikan dengan yang baru. Kisah Rangga dan Cinta telah menjadi kenangan. Suasanan courdyard museum wayang yang cantik dan damai pun kini hanya kenangan. Beruntungnya saya pernah mengalami kenangan indah ini.
*Foto oleh Bambang Eryudhawan http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151537900288104&set=a.142851913103.112889.814518103&type=1&relevant_count=1
Published with Blogger-droid v2.0.4
Senin, 28 Januari 2013
Gedung Cerutu Surabaya
Orang Indonesia memang ahli dalam melokalkan segala sesuatu. Salah satu korbannya adalah gedung yang sekarang disebut dengan gedung cerutu ini.
Gedung ini dibangun tahun 1916 oleh N.V. Maatschappij Tot Exploitatie van Het Technish Bureau Gebroeders Knaud, sebuah biro teknik bangunan dari Belanda. Tak ada bukti bahwa si perancang mendesain bangunan ini terinspirasi dari cerutu. Model minaret berkubah lancip sangat umum di beberapa arsitektur Eropa, tetapi tidak di tanah Hindia. Kreatifitas masyarakat lokal Hindia lah yang senang melokalkan segala sesuatu yang berbau asing membuat gedung ini sekarang dikenal sebagai gedung cerutu, karena masyarakat lokal merasa minaret gedung tersebut mirip cerutu raksasa.
Sayang, paska runtuhnya kekuasaan pemerintaham Belanda, gedung megah yang tadinya dijadikan sebagai kantor perusahaan Belanda kini terbengkalai kusam. Seperti sampah urban, besar tetapi tak tau untuk apa. Memang tadinya gedung ini sempat beberapa kali berubah fungsi paska kemerdekaan Indonesia.
Tak bisa dibayangkan apa yang akan dirasakan oleh arsiteknya jika tahu bangunan desainnya yang megah kini hanya terbengkalai dan hanya sekedar diingat sebagai gedung cerutu saja.
Kampung Kemasan
Kampung Kemasan adalah kampung tua di Kota Gresik, Indonesia. Letaknya di pulau Jawa, 3 jam perjalanan darat dari Bandara international Juanda kota Surabaya.
Nama kampung Kemasan berasal dari kata emas. Sekitar tahun 1853, terdapaylah seorang perajin emas keturunan Cina yang amat masyur. Kualitas emas buatannya sangat baik sehingga dia terkenal dan sukses.
Dari sinilah cerita dimulai, perajin emas tersebut bernama Bak Liong. Dia mendirikan pemukiman di daerah yang sekarang di sebut Kampung kemasan. Maka tak heran jika kampung kemasan memliki rumah-rumah yang bercorak seperti rumah Cina.









































