Tampilkan postingan dengan label heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label heritage. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Agustus 2013

Perjalanan Sejarah di Cikini

Siang itu, saya dan kawan saya mendatangi Gedung Juang 45 di kawasan Menteng Raya Jakarta. Kedatangan kami untuk menghadiri acara yang rutin diadakan oleh Komunitas Historia Indonesia, yaitu acara mengunjungi tempat- tempat bersejarah.

Sesuai namanya, Komunitas Historia Indonesia adalah sebuah perkumpulan nirlaba yang bergerak dibidang sejarah, kebudayaan dan pendidikan. Disinilah tempat berkumpulnya orang-orang yang mencintai sejarah Indonesia dari berbagai kalangan. Anggotanya tidak melulu berlatar belakang sejarah atau arkeologi.

Hari itu di bulan Agustus 2013, Komunitas Historia Indonesia mengadakan jalan-jalan sejarah ke kawasan Cikin Jakarta. Acara diberi judul "Jakarta Heritage Trail: Ngaboeboerit ke Tjikini". Bulan Ramadhan dimana umat Islam berpuasa tak menghalangi peserta, yang sebagian besar muslim mengikuti kegiatan yang mengharuskan kita berjalan kaki sejauh sekitar 1,5 kilometer disore hari menyusuri tempat-tempat bersejarah di kawasan Cikini, Jakarta. Karena itulah kenapa acara ini disebut ngabuburit (menghabiskan waktu menunggu waktu berbuka puasa).

Cikini

Sejarah Cikini tak lepas dari sejarah perkembangan perumahan masa kolonial Belanda di Hindia Belanda. Tahun 1920, pemerintah Hindia Belanda merasa perlu membuat perumahan baru untuk warga Eropa dan warga pribumi kelas menengah atas.

Dipilihlah kawasan menteng yang letaknya di selatan benteng kota Batavia. Dari sinilah dimulai bahwa Batavia, cikal bakal kota Jakarta, berkembang ke arah selatan. Karena kawasan perumahan Menteng ditujukan untuk golongan menengah atas, maka kawasan ini dirancang dengan sebaik-baiknya menggunakan tim ahli dari Belanda yang dipimpin oleh arsitek P.A.J. Mooijen. Untuk pertama kalinya pula Peraturan Tata Bangunan Kota yang pertama (Bataviasche Bouwverordening,1919) diterapkan.

Jika ada pemukiman, tentu ada fasilitas umum. Kawasan Cikini waktu itu difungsikan sebagai area fasilitas umum bagi perumahan Menteng. Maka tak heran kawasan Cikini waktu itu tumbuh sebagai area komersial dan bangunan publik dimana banyak terdapat rumah makan, sekolah, kantor pos, pertokoan dan bangunan publik lainnya.

Kawasan Cikini adalah penyokong Kawasan pemukiman Menteng. Oleh karena itu di Cikini banyak sekali sejarah-sejarah Indonesia yang terekam.

Gedung Juang 45

Persinggahan pertama tur ini adalah gedung juang 45. Bangunan ini saat ini difungsikan sebagai museum sejarah perjuangan Indonesia era jepang dan agresi militer. Terlepas dari penataan interior bangunan ini yang terkesan membosankan dan ketinggalan jaman, bangunan ini masih cukup cantik jika dilihat dari jalan. Gedung juang dibangun tahun 1920an. Awalnya adalah sebuah hotel yang dikelola oleh keluarga L.C. Schomper. tahun 1920, Batavia sudah berkembang ke selatan. Sebagai salah satu kota penting di kawasan Hindia Belanda, perekonomian Batavia berkembang dan menjadikan Batavia sebagai kota yang ramai dikunjungi pelancong, entah itu untuk urusan bisnis atau urusan lainnya. Peluang inilah yang diambil oleh keluarga Schomper untuk mendirikan hotel di kawasan Menteng. Maka jadilah Hotel Schomper. Tidak begitu jelas hotel bintang berapa.

Jaman pemerintahan Jepang (1942-1945), gedung ini digunakan sebagai kantor Ganseikanbu Sendenbu (Jawatan Propaganda Jepang). Tidak jelas pula apakah gedung ini direbut paksa atau melalui perjanjian jual beli. Dijaman itu gedung ini mulai digunakan sebagai tempat berlangsungnya pendidikan politik bagi rakyat. Peninggalan jaman Jepang yang dipajang di museum Gedung Juang 45 adalah poster-poster propaganda Jepang. Menurut saya ini adalah hal yang paling menarik di museum ini. Mungkin karena saya berkecimpung di dunia desain, jadi hal-hal yang berbau grafis langsung menarik mata. Poster propaganda Jepang ini rasanya begitu penting dalam sejarah desain grafis di Indonesia.

Toko dan Pabrik Roti Tan Ek Tjoan

Bermula dari tahun 1921, seorang Cina di Bogor merintis usaha roti yang kini melegenda di Jakarta. Tan Ek Tjoan melihat pasar bahwa kebiasaan orang Eropa yang mengkonsumsi roti dalam kehidupan sehari-hari, maka ia membuat roti untuk kalangan eropa. Resep dan rasanya tentu saja disesuaikan dengan lidah Eropa. Roti buatan Tan Ek Tjoan pun laris dikalangan warga Eropa di Hindia Belanda. Kemudian Tan Ek Tjoan membuka pabrik dan tokonya di kawasan cikini untuk mendekatkan diri dengan pemukiman Eropa di Menteng. Toko dan pabrik roti ini masih bisa dikunjungi hingga saat ini. Walau kini usaha roti Tan Ek Tjoan sudah diturunkan ke generasi ketiga dan Belanda sudah tidak lagi menguasai berkoloni di Hindia Belanda/Indonesia, tetapi roti ini tetap memiliki penggemarnya sendiri. Ditengah persaingan usaha roti yang semakin menjamur, roti Tan Ek Tjoan tetap mempertahankan orisinalitasnya. Beruntung saya bisa mengunjungi toko dan pabriknya yang legendaris. Sayang waktu itu kegiatan produksi di pabriknya sedang tidak ada. Jadi saya hanya melihat mesin-mesinnya saja.

Menurut karyawan Tan Ek Tjoan, masih banyak pelanggan yang memilih membeli langsung ke sini walau roti Tan Ek Tjoan sekarang bisa didapatkan di mana-mana. Ada yang ingin bernostalgia.

Rumah Raden Saleh

Dari sekian tempat yang kami kunjungi, menurut saya rumah raden saleh yang paling saya tunggu. Raden Saleh adalah pelukis Indonesia yang paling fenomenal. Dia pelukis langganan kaum kerajaan dan ningrat Eropa.

Raden saleh lahir dan dibesarkan di jawa, Hindia Belanda, tetapi kemudian hijrah ke Jerman dan Belanda untuk melanjutkan pendidikan melukisnya. Lama hidup di Eropa dan bergaul dengan orang-orang Eropa membuat gaya hidup dan selera Raden Saleh yang kebarat-baratan. Hal ini bisa dilihat dari rumah yang ia bangun di Batavia sekembalinya dari berkelana di Eropa sekian tahun. Karena memiliki langganan kaum atas, tak heran Raden Saleh memiliki kekayaan yang berlimpah.

Kembali ke Batavia, diapun membeli tanah yang luas di kawasan Cikini. Dia membangun rumah bergaya Eropa yang ia desain sendiri. Saya selalu membayangkan bahwa kehidupan sosial Raden Saleh itu seperti tokoh Minke di buku Anak Semua Bangsa karya Pramudya Ananta Toer. Seorang manusia pribumi yang modern, jauh dari gaya tradisional. Pertama memasuki rumah Raden Saleh, kami disambut oleh ruang tengah yang luas dan tinggi. Lengkap dengan pintu-pintu dan tangga di sekeliling ruangan. Saya merasakan suasana film The Sound of Music, ruang tengah tempat anak-anak keluarga Trapp bernyanyi.

"So long, farewell
Auf Wiedersehen, adieu
Adieu, adieu
To you and you and you"

Ah indahnya membayangkan suasana itu. Ditambah lagi dengan luasnya halaman rumah yang saya bayangkan bersuasana hijau teduh pepohonan. Plus kota kawasan Cikini yang saat itu belum sepadat saat ini.

Sayang saat ini kondisi rumah raden saleh agak memprihatinkan. Walau tetap dipelihara dengan baik oleh pemilik saat ini yaitu Rumah Sakit PGI Cikini, tetapi auranya sudah berbeda dan agak sedikit berantakan.
Saat ini rumah Raden Saleh dijadikan ruang dokter. Saya berharap jika rumah Raden Saleh dijadikan ruang yang lebih bersinggungan dengan masyarakat dan pasien. Misalnya museum, galeri seni atau ruang komunitas. Tentu lebih mendekatkan rasa seni dan sejarah ke masyarakat, khususnya ke pasien dan pengunjung rumah sakit. Suasana runah sakit bisa lebih hidup, syukur membantu proses pengobatan.

Sebenarnya ada beberapa tempat lagi yang dikunjungi, tetapi saya hanya menceritakan yang menarik di hati saja.

Sejarah memang tak pantas untuk diluang, tapi tak lantas dilupakan begitu saja.

(catatan: foto masih dalam tahap editing. Menyusul)

Senin, 08 April 2013

Kenangan Ada Apa Dengan Cinta dan Museum Wayang

Penikmat perfilman Indonesia yang hidup di tahun 2002 pasti pernah merasakan euforia film Ada Apa Dengan Cinta yang dibintangi Dian Sastro. Film ini walaupun bukan film yang luar biasa secara kualitas, tetapi tetap dijategorikan sebagai salah satu film terpenting dalam sejarah perfilman Indonesia. Film ini menginspirasi banyak orang, membekas di hati orang-orang yang menontonnya. Karena kenangannya yang kuatlah, film ini diputar kembali ditahun 2012 dalam rangka sepuluh tahun film Ada Apa Dengan Cinta.

Ada Apa Dengan Cinta berkisah tentang percintaan remaja SMA bernama Cinta dan Rangga. Film berakhir dengan perpisahan mereka di Bandara karena Rangga harus pindah ke luar negeri. Bukan akhir yang bahagia.

Indonesia adalah negeri yang latah. Melihat kesuksesan yang luar biasa, Ada Apa Dengan Cinta dibuat kelanjutannya dalam format serial televisi (sinetron). Berkisah tentang sekembalinya Rangga ke Indonesia dan hubungan percintaannya dengan Cinta. Serial TV Ada Apa Dengan Cinta berkesan memaksa dan berorientasi meraup untung dengan memanfaatkan euforia film bioskopnya. Terbukti dengan semua aktor dan aktrisnya adalah pemain baru. Kualitas yang buruk ini cukup mengecewakan penggemar. Bahkan yang lebih parah adalah serial TV merusak kenangan orang akan kisah di filmnya.

Saya pribadi, dan banyak penikmat film sependapat bahwa salah satu kenangan dari film Ada Apa Dengan Cinta adalah saat adegan perpisahan di bandara. Setelah itu film berakhir. Apa yang terjadi selanjutnya, biarlah menjadi misteri yang dibawa mati penonton. Misteri yang tak terpecahkan adalah salah satu kenikmatan menonton film.

...



Suatu malam saat saya membuka facebook, tak sengaja melihat foto yang diunggah teman facebook saya, seorang arsitek senior Indonesia. Foto yang membuat miris. Foto itu adalah foto taman yang baru dibuat di museum wayang Jakarta.

Museum wayang Jakarta adalah sebuah museum wayang yang menempati bangunan tua bekas gereja yang didirikan sejak tahun 1640 dan beberapa kali mengalami renovasi. Oleh pemerintah bangunan ini dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya. Karena itulah penanganan bangunan ini tak bisa sembarangan. Perlu ilmu dan keahlian khusus tentang arsitektur cagar budaya. Untungnya bangunan ini pernah dipugar oleh arsitek senior yang berkompeten dibidangnya.

Ketika saya mengunjungi museum wayang tahun 2012, saya sangat menyukai area courtyardnya. Cahaya masuk dengan bebas menyapu dinding bata merah. Halaman courtyard berupa rumput membuat saya merasa nyaman duduk disitu melihat komposisi yang cantik. Ditambah lagi ada satu bagian penting dari bangunan ini yaitu prasasti makam Jan Piterszoon Coen, mantan gubernur jendral Hindia Belanda masih dipertahankan dan berdiri dengan kokoh di courtyard.

Seperti film Ada Apa Dengan Cinta, museum wayang bukanlah bangunan dengan desain yang terbaik dimasanya. Renovasi desainnya pun bukanlah renovasi desain terbaik dimasa kini. Tetapi saya selalu percaya, yang tak akan pernah bisa dikendalikan oleh arsitek adalah menciptakan kenangan akan ruang.

Courtyard museum wayang memberikan kenangan kuat bagi saya dan banyak orang lain tentang bangunan itu. Favorit saya adalah duduk menghadap prasasti makan Jan Pieterzoon Coen, dengan latar depan rumput hijau dan latar belakang dinding bata. Semuanya selaras. Lingkungan didesain tak harus berteriak, biarkan jiwa kita duduk dengan tenang di courtyard menikmati cahaya matahari menyapu material yang ada.

Saya tidak tahu apakah ratusan tahun yang laku warga Hindia Belanda juga merasakan apa yang saya rasakan di tahun 2012 ketik mengunjungi bangunan itu.

Tetapi satu yang saya tahu bahwa kenangna saya dirusak oleh renovasi berlebihan pada courtyard museum wayang. Courdyard rumput yang tadinga tenang diganti menjadi kolam buatan dengan disain kualitas rendah. Tak ketinggalan pohon bekas ditebang palsu dari beton dicat menyerupai warna pohon. Ah, sedih melihat bangunan cantik dirusak oleh renovasi desain kelas bawah. Itu juga yang saya rasakan ketika dulu menonton serial TV Ada Apa Dengan Cinta.

...

Kadang kala saya berpikir bahwa biarlah kenangan itu tercipta setelah apa yang kita alami atau rasakan hilang atau tergantikan dengan yang baru. Kisah Rangga dan Cinta telah menjadi kenangan. Suasanan courdyard museum wayang yang cantik dan damai pun kini hanya kenangan. Beruntungnya saya pernah mengalami kenangan indah ini.

*Foto oleh Bambang Eryudhawan http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10151537900288104&set=a.142851913103.112889.814518103&type=1&relevant_count=1

Published with Blogger-droid v2.0.4