Selasa, 03 Februari 2015
Rabu, 21 Januari 2015
Selasa, 20 Januari 2015
Selasa, 26 Agustus 2014
Senin, 18 Agustus 2014
Head Of The Road Georgia Sketch
Kamis, 14 Agustus 2014
Senin, 21 Juli 2014
Fanhansa Lufthansa
Fanhansa by Lufthansa dari Jerman. Maskapai yang membawa tim juara. Boeing 747-800 dengan livery khusus piala dunia 2014.
Selasa, 15 Juli 2014
Senin, 14 Juli 2014
Untuk Langit yang Biru dan Pepohonan yang Hijau
Untuk langit yang biru, dan pepohonan yang hijau.
Simpatisan Jokowi yang saya kenal kebanyakan adalah orang baik-baik. Mereka yang dengan sukarela dan sadar memutuskan untuk mendukung orang baik menjalankan pemerintahan. Mereka sangat kreatif. Membuat gambar, membuat kaos, membuat komik, membuat lagu, membuat video, membuat pameran, membuat konser, dan karya-karya dan aktivitas-aktivitas lain dengan sukarela. Tidak ada komando, semua terkesan organik.
Saya percaya jika Jokowi menjadi presiden, akan ada optimisme di masyarakat. Mereka yang sebelum ini apatis menjadi sedikit tergerak untuk bergandeng tangan dengan pemerintah membangun Indonesia. Semua bekerja keras di bidangnya masing-masing dengan ceria. Inilah semangat yang diimpikan pendiri bangsa puluhan tahun lalu.
Pemerintah akan lebih terbebani beban moral karena pendukung mereka adalah rakyat yang mendukung dengan mata hati. Berani menyeleweng artinya berani diserang oleh simpatisan yang mendukung selama ini.
Saya percaya optimisme dan kolaborasi yang baik akan membawa kebaikan.
Selasa, 08 Juli 2014
Pemandangan Gedung
Dulu di desa bangun tidur ngelihat pemandangan gunung tinggi. Sekarang di kota ngeliat pemandangan gedung tinggi. Hidup itu harus terus dikayuh, karena kalau diam akan jatuh.
Jumat, 20 Juni 2014
Kamis, 12 Juni 2014
Hotel Majapahit
Senin, 12 Mei 2014
Joko Widodo
Kita tidak butuh Indonesia menjadi macan Asia yang angkuh. Yang kita butuhkan adalah Indonesia menjadi negara yang makmur, damai dan bersahaja seperti di negeri para Hobbit.
Senin, 28 Januari 2013
Gedung Cerutu Surabaya
Orang Indonesia memang ahli dalam melokalkan segala sesuatu. Salah satu korbannya adalah gedung yang sekarang disebut dengan gedung cerutu ini.
Gedung ini dibangun tahun 1916 oleh N.V. Maatschappij Tot Exploitatie van Het Technish Bureau Gebroeders Knaud, sebuah biro teknik bangunan dari Belanda. Tak ada bukti bahwa si perancang mendesain bangunan ini terinspirasi dari cerutu. Model minaret berkubah lancip sangat umum di beberapa arsitektur Eropa, tetapi tidak di tanah Hindia. Kreatifitas masyarakat lokal Hindia lah yang senang melokalkan segala sesuatu yang berbau asing membuat gedung ini sekarang dikenal sebagai gedung cerutu, karena masyarakat lokal merasa minaret gedung tersebut mirip cerutu raksasa.
Sayang, paska runtuhnya kekuasaan pemerintaham Belanda, gedung megah yang tadinya dijadikan sebagai kantor perusahaan Belanda kini terbengkalai kusam. Seperti sampah urban, besar tetapi tak tau untuk apa. Memang tadinya gedung ini sempat beberapa kali berubah fungsi paska kemerdekaan Indonesia.
Tak bisa dibayangkan apa yang akan dirasakan oleh arsiteknya jika tahu bangunan desainnya yang megah kini hanya terbengkalai dan hanya sekedar diingat sebagai gedung cerutu saja.







