Minggu, 15 Januari 2012

Timo Scheunemann dan Pembinaan Usia Muda


Published with Blogger-droid v2.0.2
Timo Scheunemann tidak memiliki darah Indonesia sedikutpun di garis keturunan leluhurnya. Dia hannyalah seorang pemain sepakbola berkebangsaan Jerman yang merumput di klub Indonesia, dan kemudian jatuh hati terhadap sepakbola Indonesia. Dia tidak seperti El Loco Gonsales yang kemudian mengubah kewarganegaraannya menjadi warga negara Indonesia dan membela timnas Indonesia.

Entah apa yang dipikirkan Timo, meninggalkan negara aslinya yang melahirkan teknologi dan talenta-talenta besar untuk mencetak tim-tim sepakbola berkualitas international. Dia memilih Indonesia, negara yang sepakbolanya jauh dari kata berhasil. Jika ada buku berjudul Sepakbola yang Payah, Indonesia bisa masuk dalam buku itu, bahkan dibahas di satu bab tersendiri. Timo menghabiskan tenaganya sebagai pemain, pelatih dan pembina pemain muda bagi negara dengan sepakbola buruk tersebut.

Timo dan Nurdin Halid, eks ketua PSSI, sama-sama punya cita-cita besar. Membuat sepakbola Indonesia jauh lebih baik. Jika Nurdin berambisi besar dengan selalu berusaha untuk menduduki kursi ketua PSSI, menulis buku tebal yg berisi visi sepakbola Indonesia kedepan dan dengan sombongnya mengatakan Indonesia siap menjadi tuan rumah World Cup 2022. Tidak demikian dengan Timo.

Timo cukup bersahaja. Dia dikenal dekat dengan pembinaan pemain muda. Dia mengeluarkan dua buku tipis tentang visinya dan teknik-teknik bermain sepakbola modern bagi sepakbola Indonesia. Dia bahkan memilih untuk tinggal di kota kecil, Malang, hidup diperkampungan Jawa, dan membina bibit-bibit muda Indonesia. Di bukunya dia hanya berkata, Indonesia mampu menjadi tim yang disegani di level international. Untuk itulah dia terjun langsung kelapangan, bersama anak-anak muda Indonesia demi impian suatu negara yang bukan negaranya sendiri.

Kisah Timo persis kisah dalam film-film Hoolywood, dimana seorang pria kulit putih, mendatangi suatu negara terbelakang, menjadi pejuang dan pahlawan di negara tersebut. Katakanlah The Last Samurai, Machine Gun Preacher, The Last King of Scotland, dll.

Timo belum berhasil seperti di film Hollywood. Tetapi semangatnya, seperti yang ia teriakkan di dua bukunya "Untuk Sepak bola Indonesia!", patut diapresiasikan. PSSI pun meliriknya untuk menjalankan program pembinaan pemain usia muda.

Ingatlah ketika Jepang terpuruk, ia membutuhkan seorang revolusioner Amerika dalam tubuh The Last Samurai. Ketika sepakbola Indonesia terpuruk, ia juga membutuhkan seorang revolusioner Jerman.

Published with Blogger-droid v2.0.2

Sabtu, 07 Januari 2012

Pahlawan

SDalam pewayangan, pahlawan tak digambarkan sebagai pria berotot besar, berdada bidang, dan perut sixpack. Pahlawan tak digambarkan sebagai manusia yang selalu membusungkan dada.


Pahlawan dalam pewayangan adalah mereka yang teduh hatinya, selalu menunduk dan membungkuk dan berpinggang tipis. Mereka adalah inspirasi, penolong, dan tak menyombongkan fisik.


Pahlawan sesungguhnya ada di setiap manusia, tanpa harus berfisik seperti Superman.


Published with Blogger-droid v2.0.2

Kamis, 05 Januari 2012

Tukang Bangunan dan Arsitek




Seorang tukang bangunan pernah membuatkan saya sebuah mainan garpu-garpuan dari kayu sisa material untuk membuat plafond rumah. Itu terjadi beberapa tahun lalu, ketika saya masih SD, ketika saya tak memiliki bayangan untuk menjadi arsitek.

Tukang tersebut saya kenal hingga kini karena ia adalah tukang keluarga saya. Seiring waktu, saya yang dulu adalah anak ingusan sekarang telah menjalani karir sebagai arsitek ingusan. Saya yang dulu main pasir material proyek, kotor-kotor, sambil menarik mainan truk berisi batu-batuan, dan terkadang terkagum-kagum melihat akrobat para tukang berjalan di ketinggian tanpa pengaman, sekarang tak lagi berkotor-kotor di atas pasir untuk bermain truk-trukan. Tetapi tukang tadi tetap berpanas-panas mengaduk semen, memotong kayu atau becek-becekan mengeruk lumpur. Tukang tetap selalu bersahaja tanpa pernah menerima penghargaan apapun dan namanya tak akan pernah muncul di majalah-majalah mahal.

Saya teringat beberapa saat lalu, milis arsitek di Indonesia menjadi panas gara-gara muncul sebuah buku berjudul "Menjadi Arsitek Semudah Membalik Telapak Tangan" yang di tulis oleh orang yang tak pernah mengenyam pendidikan arsitektur sama sekali. Banyak arsitek marah, merasa dilangkahi kehormatannya, sebagian merasa takut karena buku tersebut memprovokasi masyarakat untuk tidak menggunakan jasa arsitek. Para arsitek tersebut takut kehilangan uang.

Di lain cerita, seorang teman saya yang juga seorang arsitek merasa panik dan aktif di milis menyuarakan undang-undang arsitek yang tak kunjung disahkan negara. Ia takut sebagai lulusan PPArs dan S2, yang tentunya sudah menghabiskan uang banyak untuk pendidikannya yang tinggi itu, ia tak bisa mendapatkan uang yang banyak ketika berprofesi sebagai arsitek kelak jika Undang-undang Arsitek tak juga disahkan.

Entah kenapa saya selalu teringat kata-kata tukang saya waktu SD dulu. Ketika saya main mobil-mobilan di pasir, dia sedang makan siang sambil ngobrol dengan saya yang sedang main.

"Dek, boleh minta mobilnya satu" sambil menunjuk salah satu mobil truk saya  yang paling kecil dan jelek menurut saya.

"Buat apa?", tanya saya.

"Buat hadiah anak Om"

Entahlah, saat itu saya masih terlalu kecil untuk mengerti. Makanya mainan itu tak pernah saya berikan.

Published with Blogger-droid v2.0.2

Sabtu, 26 November 2011

Pluralisme sejati




Percayakah kau bahwa paham pluralisme itu tak pernah ada. Mereka yang berkoar-koar akan pluralisme sendiri, yang menganggap perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan, adalah mereka juga yang mengingkari keyakinannya akan pluralisme.

Ribuan buku dan tulisan akan pluralisme telah ditulis, tak ada satu pun yang benar-benar plural. Keyakinan pluralisme justru terjerumus pada satu kesamaan sikap, keekslusifan akan kepluralan yang justru menjebak mereka yang mengaku berpaham plural menjadi tidak berpaham plural.

Sebuah forum kebebasan beragama yang menjunjung tinggi perbedaan agama untuk perdamaian justru menciderai makna perdamaian itu sendiri. Anggotanya adalah orang-orang lintas agama yang mengakui semua agama dan keyakinan adalah sama-sama mengajarkan kebaikan. Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus menjadikan kita saling membenci dan bermusuhan. Tanyakan pada mereka apa pendapat mereka akan Islam garis keras seperti FPI? Tanyakan pada mereka akan Kristenisasi terselubung? sepakat mereka membenci itu semua karena dapat mengganggu perdamaian dan hak untuk berbeda. Disinilah pluralisme itu dilukai. Mereka juga memiliki rasa benci pada sesuatu yang tak berpaham pluralisme. Bukankah menjadi FPI dan penginjil itu adalah pilihan juga?

Ketika pemilu, sering muncul jargon hargai perbedaan, apapun pilihannya, kita tetap satu. Tanyakan pada mereka akan golput? Mereka membencinya. Bukankah menjadi golput juga suatu pilihan.

Seorang musisi Indonesia yang aktif mengkampanyekan untuk menghargai perbedaan melalui akun twitter pernah menuliskan kurang lebih seperti ini, "saya mencintai perbedaan, satu-satunya yang saya benci adalah paham yang membenci perbedaan".

Pluralisme bukankah paham yang menghargai perbedaan, apapun perbedaan itu. Sudah sepantasnyalah pluralisme menghargai mereka yang anti pluralisme. Mungkinkah itu? Karena itu pluralisme sejati itu tak akan pernah ada di dunia ini.
Published with Blogger-droid v1.7.2 Gambar "Tram Stories" oleh Omar Jaramillo

Minggu, 13 November 2011

Kiri lebih Baik dari Kanan




Kutipan dari Novel Larung Karangan Ayu Utami:

"... Kiri lebih baik ketimbang kanan, dan kenapa pembagian vertikal lebih masuk akal dari pembagian horizontal. Kalian mengajar tabik dengan tangan kanan dan menyebutnya sopan, tetapi manusia cukup dengan sisi kirinya saja sebab jantung ada di sisi kiri dan cebok lebih penting ketimbang salaman, sebab yang pertama adalah demi kebersihan dan yang terakhir adalah demi basa-basi. Jangan membagi langit dan bumi tetapi bagilah kanan dan kiri sebab kaki tak bisa berjalan tanpa kepala namun kepalamu juga akan njeblug keracunan jika tak ada dubur dan liang kemih untuk membuang kotoran. Atas dan bawah adalah bagian yang tak terpisahkan, tetapi kanan dan kiri bisa hidup sendir-sendiri. Jika kamu memisahkan atas dan bawah, kamu menguraikan. Namun jika kamu memilahkan kanan dan kiri, kamu menggandakan. Begitu bedalah logika sintagmatik dan paradigmatik."
Published with Blogger-droid v1.7.2 gambar Ferry ride at sunset oleh Gabi Campanario

Senin, 29 Agustus 2011

Kaos Bondan Prakoso Fade 2 Black

Klik gambar untuk memperbesar





Ada foto Juarinya (bisa diganti fotomu)

Selamat Idul Fitri (Edisi Arsitektur)

Tak terasa arsitektur adalah dunia yang penuh dosa. Kita mencela tiap saat sepanjang tahun. Berusaha menjadi yang paling tahu, seolah Tuhan. Dan sekarang, saatnya berlebaran!